Skip Challenge –¬†Tantangan dan pengakuan dari lingkungan menjadi hal yang identik untuk remaja, contohnya dengan mencoba tren permainan yang disebut dengan Skip Challenge. Sayangnya, jenis permainan yang sedang ramai dipertontonkan di media sosial ini dapat mengancam jiwa.

Sebuah keisengan yang sedang tren di kalangan remaja saat ini, Skip Challenge sedang menggemparkan Indonesia. Skip Challenge sendiri sebenarnya sudah ada sejak tahun 1995 dan lebih di kenal sebagai #PassOutChallenge di luar negeri. Namun baru-baru ini tren Skip Challenge sendiri kembali muncul di kalangan remaja.

Permainan ini sendiri memiliki beberapa bentuk yang berbeda, tetapi tetap menjanjikan perasaan mendebarkan dan membuat penasaran bagi pesertanya. Namun bukan seperti perasaan seperti menghisap rokok atau seperti menggunakan obat-obat terlarang. Orang tua harus memantau anaknya dan memberi tahukan bahaya dari melakukan permainan ini.

Awas Bahaya Dari Skip Challenge yang Sedang Tren Di Kalangan Remaja

Di negara Barat khususnya Amerika, Tantangan Skip Challenge ini disebut dengan Choking Game atau #PassoutChallenge. Cara bermainnya dengan menekan dada sekeras-kerasnya selama beberapa detik dan menyebabkan pemain kekurangan oksigen, lalu jatuh pingsan.

Skip Challenge
Skip Challenge

Permainan mematikan ini juga bisa dilakukan sendiri menggunakan tali yang dililitkan ke dada lalu ditarik, seperti mencekik leher sendiri. Namun, para remaja biasanya melakukan secara berkelompok atau lebih dari dua orang.

Beritahu anak-anak anda tentang bahaya permainan Skip Challenge

Hal ini semakin penting dengan sosmed dan seringnya penggunaan internet oleh anak-anak dan para remaja untuk didiskusikan tentang bahaya dari tantangan ini. Penting untuk diingat bahwa calon pemain tidak sadar atau tidak ingin sadar tentang permainan ini. Oleh sebab itu perlu dididik lebih awal.

Orang tua harus menggunakan sumber-sumber terpercaya untuk memahami semua alasan anak-anak berpartisipasi dalam game berbahaya ini. Sumber ini akan menjadi sumber terbaik dari informasi faktual dan umumnya ditulis dengan penekanan pada semua konsekuensi baik maupun buruk terhadap subyek.

Efek Jangka Panjang dari game Skip Challenge

Ketika memainkan game ini, para peserta secara umum tidak sadar akan apa yang terjadi pada otak mereka. kekurangan oksigen menuju otak disebut cedera otak Hypoxic-Anoxic.
Hal ini terjadi ketika oksigen sepenuhnya atau sebagian terputus dari otak. Terganggunya aliran darah menuju otak menyebabkan orang ingin mencoba tantangan terbaru ini.

HAI (Hyposic-Anosix Injury) memiliki efek yang berlangsung bukan hanya kepada korban atau peserta. tapi juga pada teman-teman dan keluarga korban. pada umumnya, korban butuh waktu lama dan layanan medis untuk pemulihan jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Pasien penderita HAI juga menderita cacat jangka panjang baik secara mental maupun fisik.

Efek jangka panjang dapat bervariasi dari hanya pingsan sampai kemungkinan besar kematian. kematian sel bisa terjadi dalam beberapa menit dari kekurangan oksigen.  Tergantung pada tempat kematian sel dan jumlah kematian sel fungsi motorik, gangguan penglihatan, gangguan berbicara. juga gangguan ini dapat menyebabkan cedera serius bagi pemain karena ketidakmampuan otot kaki dan tangan mereka waktu pingsan.

Alfred Sacchetti, chief emergency medicine dari Our Lady of Lourdes Medical Center, Camden, mengatakan permainan ini bisa merenggut nyawa saat pertama kali dimainkan.

Skip Challenge
Skip Challenge

“Ini nyata dan benar-benar berbahaya, permainan ini sama saja dengan bunuh diri,” kata Sacchetti.

Sebuah studi CDC baru-baru ini menganalisis 82 kasus Skip Challenge yang berisiko pada kematian. Menurut studi rata-rata usia anak yang melakukan permainan mematikan ini adalah enam sampai 19. Dan sebesar 87 persen permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki.

Studi juga menemukan 93 persen orangtua belum mengetahui permainan Skip Challenge yang mengancam jiwa anak-anak mereka.

Baca Juga : 5 Tools Agar Browsing Aman dan Anti Hack

 

 

BAGIKAN